Kisah janda seksi suka mesum




Cerita ini adalah kisah nyata yang sangat mengesankan bagi saya, karena, justru dengan seorang wanita yang berstatus janda lah untuk pertama kali saya merasakan nikmatnya bersetubuh. Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari Jakarta. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan ‘reuni’ bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota budaya, Jogjakarta.
Waktu itu saya tiba di terminal bis di Kampung Rambutan Jakarta pukul 2 siang, meskipun bis Jakarta – Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba orang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh di depan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu. "Makasih Dik, maklum anak kecil kerjanya lari-lari mulu" ungkap seorang wanita seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga (27th, saat itu), Mbak Gita, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya.... dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya. "Maaf, boleh saya duduk disini" suara Mbak Gita memecah 'keheningan' saya "Ssii... silakan Mbak," balas ku sambil menggeser pantatku di bangku ruang tunggu bis antar kota. "Mau kemana mbak” saya coba membuka pembicaraan. "Anu... saya mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?" "Sama, jogja juga. Mbak sendiri?" pandangan ku melirik payudaranya yang belahannya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya.
"Ya, tapi ada Rafi kok" katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya.
"Saya Andi Mbak" ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah.
"Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya" ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Gita cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu.
Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Gita janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harganya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari.
Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara di dalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Rafi, sehingga Mbak Gita makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Rafi dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur. Sedangkan saya dan Mbak Gita masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau hal-hal ‘jorok’, apalagi dengan tawa genitnya Mbak Gita sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua.
"Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya." tanya ku sekenanya.
"Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri... kalo ga, ya... ini, si Rafi yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun." jawabnya sambil tersipu malu.
"Masa... Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis" aku coba mengeluarkan jurus awal.
Tiba-tiba si Rafi yang tidur pulas dipangkuan Mbak Gita, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya kuremas kecil dan Mbak Gita merespon sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena ‘diantara’ kami masih ada si kecil Rafi yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu.
"Ssshhh... ahhh... mas" erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna Rafi tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu.
"Terus mas... enak..... ouhhhh" tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok’" rengeknya manja. Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat Rafi terbangun...
"Mama..., ngapain sama Om Andi" suara Rafi membuat kami segera menyudahi ‘fore play’ ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Rafi malah ga tidur lagi.
"Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak" tanya ku.
"Hotel Mas... Napa? Mas mau nemenin kami...???"
"Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya di sekitar malioboro aja."
Pukul 7 pagi akhirnya kami tiba di terminal Giwangan, Jogja... dari terminal kami bertiga yang mirip Bapak-Ibu dan anak ini, nyambung bis kota dan nyampai dikawasan malioboro setengah jam kemudian.. setelah muter-muter, akhirnya kami mendapatkan hotel kamar standart dengan doble bed dikawasan wisata jogja itu. Setelah semua beres, si room boy yang mengantar kami pamit.
"Rafi, mau mandi atau langsung bobo chayank?"
"Mandi aja, Ma... Oya, Om Andi nginep bareng kita ya..?" si Rafi kecil menanyaiku "Ya, biar mama ada temen ngobrolnya." jawab Mbak Gita sambil ngajak Rafi ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Di dalam ternyata si mbak telah melepas pakaiannya dan hanya melilitkan handuk di tubuh seksinya.
Dengan posisi agak nungging, dengan telaten Mbak Rafi menyabuni si Rafi, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka, nampak jelas cd item yang membalut pantat seksi itu. Seperti Mbak Gita sengaja memancing naluriku, karena walau tau aku bisa ‘menikmati’ pemandangan tersebut, pintu kamar mandi tidak ditutup barang sedikitpun.
Tak lama kemudian, Rafi yang telah selesai mandi, berlari masuk ke dalam kamar.."Gimana, Rafi udah seger belom?" godaku sambil mengedipkan mata ke arah Mbak Gita
"Seger Om.... Om mau mandi??" Belum sempat ku jawab.....
"Ya ntar Om Mandi mandinya bareng mama, sekarang Rafi bobo ya..." celetuk Mbak Gita sambil tersenyum genit kearah ku.
Selagi Mbak Gita menidurkan anaknya, aku yang sudah masuk ke kamar mandi melepas seluruh pakaianku dan ‘mengurut-urut’ penis ku yang sudah tegang dari tadi. Lagi asiknya swalayan sambil berfantasi, Mbak Gita ngeloyor masuk kamar mandi.
Aku kanget bukan kepalang..
"Udah gak sabar ya…..." godanya sambil memandagi torpedoku yang sudah ‘on fire’
"Haa... aaa... Mbak..." suaraku agak terbata-bata melihat Mbak Gita langsung melepas lilitan handuknya hingga terpampang payudaranya yang montok yang ternyata sudah ga dibungkus BH lagi, tapi penutup bawahnya masih utuh.
Tanpa mempedulikan kebengongan ku, Mbak Gita langsung memelukku.
"Jangan panggil Mbak dong. Gita aja" rengeknya manja sambil melumat bibirku dan tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus kemaluan ku yang semakin ‘on fire’. Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Gita dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut... hingga sampe dibatang kemaluanku.
"Berpengalaman sekali dia ini..." pikirku. Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang....
"Ohhhh... Gita... nikkk... mat... teruss... isepppp" desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya. 15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku.
"Akhh... hh... aku keulu..aaarrr..." erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Gita yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku..
Setelah suasana agak tenang, aku menarik tangan Gita untuk berdiri, dan dalam posisi sejajar sambil memeluk erat tubuh sintal janda seksi ini, mulutku langsung melumat mulut Gita sambil meremas-remas pantatnya yang padat. Gita membalasnya dengan pagutan yang tatkala ganas sambil tangan nya mengenggam penisku yang masih layu dan mengurut-urutnya. Dan dengan buasnya aku mengecup dan menyedot dari leher terus merambat hingga ke payudara nya yang padat berisi.
"Oohhh.. Ndi.... ahhkkhh." erangnya tatkala mulutku mulai bermain di ujung putingnya yang tegang dan berwarna coklat kemerahan. Tanpa melepas lumatan pada mulut Gita, perlahan aku mulai mengangkat tubuh sintal tersebut dan mendudukannya diatas bak mandi serta membuka lebar-lebar pahanya yang putih mulus. Tanpa dikomando aku langsung berlutut, mendekatkan wajahku kebagian perut Gita dan menjilati yang membuat Gita menggelinjang bak cacing kepanasan.
Jilatin ku terus merambat ke bibir vagina nya yang licin tanpa sehelai bulu pun. Sesaat kemudian lidahku menjilati sambil menusuk-nusuk lubang vagina Gita, yang membuatnya mengerang histeris.
"Ndi... sudah.... Ndi... masukinn punyamu.... aku sudah ga tahan.... ayo sayang..." pinta nya dengan nafas memburu.
Tak lama kemudian aku berdiri dan mulai menggesek-gesekkan penisku yang sudah tegang dan mengeras dibibir vagina Gita yang seseksi si empunya.
"Sudah.... say.... aku ga ta.. hann... nnn... masukin.." rengek Gita dengan wajah sayu menahan geora nafsunya.
Perlahan namun pasti penisku yang berukuran 17 cm, ku masukkan menerobos vagina Gita yang masih sempit walau sudah berstatus janda itu.
"Pelann... dong say.. sudah 2 tahun aku gak maen.." pintanya seraya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat penisku mulai menerobos lorong nikmat itu.
Ku biarkan penis ku tertanam di vagina Gita dan membiarkan nya menikmati sensasi yang telah dua tahun tak dia rasakan.
Perlahan namun pasti aku mulai mengocok vagina janda muda ini dengan penis ku yang perkasa. Untuk memberikan sensasi yang luar biasa, aku memompa vagina Gita dengan formasi 10:1, yaitu 10 gerakan menusuk setengah vagina Gita yang diukuti dengan 1 gerakan full menusuk hingga menyentuh dinding rahimnya. Gerakan ini ku selingi dengan menggerakkan pantatku dengan memuter sehingga membuat Gita merasa vagina nya diubek, sungguh nikmat yang tiada tara terlihat dari desisan-desisan yang diselingi kata-kata kotor keluar dari mulutnya..
"Ouggghh.... kontolmu enak say... entot Gita terus say... nikmat" rintihnya sambil mengimbangi gerakanku dengan memaju-mundurkan pantatnya.
Tiga puluh menit berlalu, Gita sepertinya akan mencapai orgasmenya yang pertama. Tangan nya dengan kuat mencengkram punggung ku seolah meminta sodokan yang lebih dalam di vaginanya. Gita menganggkat pinggulnya tinggi-tinggi dan menggelinjang hebat, sementara aku semakin cepat menghujam kan penisku di vagina Gita... "Ooouhhh.... aaahhhh.... hhh..." erang Gita saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan.. Sejenak Mbak Gita kubiarkan menikmati multi orgasme yang baru saja dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuh sintal Mbak Gita ku bopong berdiri dan kusandarkan membelakangi ku ke dinding kamar mandi. Sambil menciumi tengkuk bagian belakang nya, perlahan tangan ku membelai dan mengelus paha mulus Mbak Gita hingga tangan ku menyentuh dan meremas kemaluan nya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit kembali. Rangsangan ini ku lakukan hingga aku persis berjongkok dibelakang Gita. Apalagi setelah jilatan merambat naik ke vagina Mbak Gita dan mengobok-obok vagina yang semakin menyemburkan aroma khas. Tak cukup sampai disitu, wajahku ku dekatkan kebelahan pantat montok itu dan mulai mengecup dan menjilati belahan itu hingga akhirnya Mbak Gita seakan tersentak kaget kala aku menjulurkan dan menjilati lubang anus nya, sepertinya baru kali ini bokong seksi dan anusnya dijilati. "Ouhh.... aakhh... ssstt.... jorok say.... apa kamu lakukan...jilat memek Gita aja.." celotehnya .
Sepuluh menit berlalu, aku kemudian berdiri dan menarik pantat montok nan seksi itu kebelakang dan penisku yang semakin tegang itu ku gosok-gosokan disekitar anus Gita…
"Ouh... ca... kittt... say... jangan disitu, Gita lom pernah say..." rengeknya sambil menahan saat perlahan penisku menerobos masuk anusnya. Setelah sepenuhnya penisku tertelan anus Gita, ku diamkan beberapa saat untuk beradaptasi seraya tangan ku meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung indah dan menciumi tengkuk hingga leher belakang dan sampai ke daun telinga nya.
"Nikk... matt... say.." hanya itu yang keluar dari mulut seksi Gita.
Merasa cukup, aku mulai memaju mundurkan penis ku secara perlahan mengingat baru kali ini anusnya dimasuki penis laki-laki. Setelah beberapa gerakan kelihatan rasa sakit dan perih yang dirasakannya tadi sudah berganti dengan rasa nikmat tiada tara.
Perlahan Mbak Gita mulai mengimbangi gerakan ku dengan goyangan saat penis ku semakin memompa anusnya, sambil tangan kananku mengobok-obok vagina nya yang nganggur.
"Aahhh... ooohhh... laur biasa say... nikmat..." Desah Gita menahan nikmatnya permainan duniawi ini. 30 menit berlalu dan aku merasa puas mempermainkan anus Mbak Gita, perlahan ku tarik penisku dan mengarahkan nya secara perlahan ke vagina, dan memulai mengobok-obok vagina itu lagi. 20 menit kemudian aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku, hingga aku semakin mempercepat gerakan sodokan ku yang semakin diimbangi Gita yang sepertinya juga akan mendapatkan orgamasme keduanya.
Diiringi lolongan panjang kami yang hampir bersamaan, secara bersamaan pula cairan hangat dan kental dari penisku dan vagina Gita bertemu di lorong nikmat Gita.. Nikmatnya tiada tara, sensasi yang tiada duanya..
Tak lama berselang, aku menarik penisku dan mendekatkan nya ke mulut Mbak Tiitn yang langsung dijilatinya hingga sisa-sisa sperma yang masih ada dipenisku dijalatinya dengan rakus.
"Tak kusangka mas sehebat ini.. baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau mas... aku mau kamu mas..." puji Mbak Gita padaku dengan pancaran wajah penuh kepuasan tiada tara...
Sesaat kemudian kami saling membersihkan diri satu dengan lainnya, sambil tentunya sambil saling remas. Saat keluar mandi terihat Rafi masih terdidur pulas, sepuas mama nya yang baru saja ku ‘embat’.
Setelah Rafi bangun, kami bertiga jalan-jalan disekitar malioboro hingga malam. Pukul 9 malam kami tiba di hotel, namun kali ini sambil memandikan Rafi, Mbak Gita tampaknya sekalian mandi.. Saat keluar kamar mandi tanpa sungkan wanita sunda ini melepas handuknya untuk selanjutnya mengenakan daster tipis yang tadi baru kami beli dari salah satu toko di kawasan malioboro.
"Mas.. mandi dulu gih.." ungkapnya saat aku mendekatkan diri dan mengecup lembut bibirnya yang langsung disambutnya.
"Iihh.. mama dan om Andi, ngapain..?" protes si kecil Rafi saat kami sesaat berpagutan didepan meja hias yang tersedia di kamar hotel itu. Setelah aku selesai mandi, ku lihat Gita lagi ngeloni Rafi, dan tampaknya kedua ibu-anak ini kecapean setalah jalan-jalan disekitar malioboro. Akhirnya ku biarkan Gita tidur dan aku gak ngantuk sama sekali mencoba mengisi waktu dengan menyaksikan live liga Inggris yang waktu itu ketepatan menyajikan big match .. Jam 12 malam lebih saat tayangan bola rampung, perlahan aku mendekati Gita dan mulai membelai-belai betis indah janda muda itu dari balik daster tipisnya hingga nyampe pangkal pahanya. Ketika tanganku mulai mengusap-usap vagina, Gita terbangun. Ku ajak dia pindah ke bed satunya, sambil ku lucuti daster tipis yang didalamnya tanpa beha tersebut. Dengan hanya menggunakan CD tipis berwarna krem, tubuh bahenol itu ku bopong dan ku lentang kan di ranjang satunya, agar kami lebih leluasa dan si Rafi kecil bisa tidur tenang. Sambil menindihnya, ku remas dan kecup puting payudara putih dan montok itu.
"Aahhh.... mas..." erangnya manja.
Jilatan ku terus merambah menikmati inci per inci tubuh seksi itu hingga sampe di gundukan nikmat tanpa sehelai rambut pun..
Hampir 20 menit lidah ku bermain dibagian sensitive itu, hingga akhirnya..
"Ayo dong mas... cepeten masukin... dah ga tahan nih..."
Perlahan kusapukan penis ku di vagina mungil itu. kelihatan sekali Gita menahan napas sambil memejamkan mata nya dengan sayu dan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya burung ku masuk ‘sarang’. Ku pertahankan posisi itu beberapa saat, dan setelah agak tenang aku mulai menyodok perlahan vagina yang semakin basah itu.
Erangan dan desahan nikmat yang keluar dari mulut seksi janda sintal ini, menandakan dia sangat menikmati permainan duniawi ini.. Tanpa malu dia mendesah, mengerang bahkan diselingi kata-kata kotor yang membangkitkan gairah.. Sementara di bed sebelahnya si kecil Rafi masih tertidur pulas.. Gita, si Janda seksi yang lagi, ku garap seakan tidak memperdulikan keberadaan putrinya si kecil, Rafi.. 25 menit-an kami ‘bertempur’ dalam posisi konvensional itu, perlahan ku angkat tubuh Mbak Gita hingga kini dia posisinya diatas. Posisi yang nikmat, karna selain menikmati memeknya aku juga bisa dengan leluasa meremas, mencium dan sesekali mengulum payudara montok yang ber-ayun dengan indah itu.. baru 15 menit,tiba-tiba tubuh Gita mengejang diikuti lenguhan panjang..
"Aaaacchh.... aauugghh... Ann.. ddii.. aakku.. kkeelluaa.. aa.. rr..."
Tak lama Gita menghempaskan tubuhnya di dada ku, seraya mulut kami berpagutan mesra. 5 menit lama nya ku biarkan dia menikmati orgasme nya. Beberapa saat, karna aku belum apa-apa, aku minta Gita menungging karna aku pengen menikmati nya dengan posisi dogstyle.. Dalam posisi nungging keliatan jelas pantat indah janda kota kembang ini.. Perlahan ku kecup dan jilati belahan pantat seksi itu. Secara perlahan jilatan ku sampe ke vagina mungilnya, Gita menggelinjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya menahan nikmat.. disaat itu, tanpa kami sadari.. si kecil Rafi bangun dan menghampiri kami. "Om Andi.. ngapain cium pantat mama.." selidiknya sambil terus mendekat memperhatikan memek mama nya yang ku lahap habis.. "Adek tenang aja ya.. jangan ganggu Om Andi... Mama lagi maen dokter-dokteran dengan Om Andi. Ntar mam mau di cuntik .. Rafi diem aja ya..." Gita coba menenangkan gadis kecil itu.. "Ehmm.,.. hayo Om... cuntik Mama Rafi cekaaa.. lang Om.. dah ga tahan neh.." rengek Gita.. sedangkan si Rafi terlihat duduk manis dipinggiran bed satunya, siap menyaksikan adegan yang semestinya belum pantas dia saksikan..
Perlahan penis ku yang sudah on fire ku gosok-gosokkan dari lubang memek Gita hingga menyentuh anusnya, dari arah memek hingga lubang anusnya. Dan karena tak tega menyaksikan Gita semakin meracau dan merengek minta segera di ’suntik’, secara perlahan ku arahkan penis ku ke liang senggama nya yang licin oleh cairan vagina nya..
"Om, kok Mama Rafi dicuntik pake burung Om.." protes si kecil yang belum ngerti apa-apa itu.
"Aauhh... ahh..... lebih dalam Mass.. sss.. Ann.. dddi.." pinta Gita dalam erangan dan desahan nikmat nya tanpa mempedulikan keberadaan Rafi yang terlihat bingung melihat mama nya, antara kesakitan atau menahan nikmat.
30 menit berlalu, aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari ujung penis ku. Agar lebih nikmat, ku putar tubuh sintal janda kembang ini tanpa mencabut penis ku hingga kami kembali pada posisi konvesional.
"Ti... tiiinn.. aku mau keluar" erang ku mencoba menahan muntahan lahar nikmat yang semakin mendesak ini…
"Ntar.. Masss.. ss.. tahann... kita bareng..." Erangnya dengan mata terpejam seraya menggigit kedua bibirnya menahan genjotanku yang semakin kencang di vaginanya..
Kedua tangan nya mencengkram punggung ku, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang kami berdua.
"Aaaccchhh.... aaauuggghh..." Maniku dan maninya akhirnya bertemu di lorong kenikmatan itu sementara bibir kami berpagut mesra dan tangan kanan ku meremas payudara nya yang mengencang saat kami orgasme bareng tadi. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu, kami masih berciuman mesra sambil berpelukan mesra, sementara penisku masih ‘tertanam’ di memeknya. Sadar dari tadi Rafi terus memperhatikan kami, Gita dengan wajahnya yang penuh kepuasan sejati, mengedipkan matanya seraya melihat ke arah Rafi sambil tersenyum manis.. dan aku pun menghempaskan tubuh ku disampingnya, dan saat penis ku akan ku cabut..
"Nggak usah Mas.. biarin aja dulu di dalem.." rengeknya manja dan segera ku hadiahi ciuman mesra di keningnya.. Tak lama kemudian Rafi mendekati kami yang baru saja permainan ranjang yang begitu dahsyat..
Hari berikutnya selama Ibu dan anak ini di Jogja, kami terus melakukan hubungan seks ini, dengan berbagai variasi dan teknik yang lebih mesra.. bahkan kadang kami melakukan nya di kamar mandi saat mandi.. Malahan kami tak peduli lagi dengan keberadaan Rafi. Gita juga tak segan mengoral penis ku dihadapan Rafi..
Liburan tahun baru lalu aku mendatanginya di Jakarta dan menginap selama seminggu lebih di rumah Janda seksi itu.. kepada tetangga sekitar dia mengenalkan aku sebagai kepona

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.