Wanita terlahir dengan kodratnya

Wanita terlahir dengan kodratnya sebagai istri

Suamiku Superman..."
 
image
Oleh Er Maya
Wanita terlahir dengan kodratnya sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Mengurus rumah tangga pun adalah hal yang wajib dilakukan wanita. Sementara, tugas pria sebagai suami dan kepala rumah tangga adalah mencari nafkah.
Hm, rasanya nilai ini sudah terlalu konvensional diterapkan di jaman yang menuntut kesetaraan gender. Seperti keinginan Kartini bahwa wanita dan pria seharusnya memiliki peran yang sama. Tak hanya lekat dengan urusan dapur, kasur dan sumur, wanita juga ingin merambah dunia luar, menjadi mandiri dan berdikari. Menjadi makhluk multitasking.
Faktanya, kini wanita pekerja semakin mendominasi di tempat kerja, bahkan sukses menempati posisi penting adalah bukti mereka ingin terlihat mampu, dan mengaktualisasi diri menjadi alasan mereka ingin sejajar dengan pria.
Lalu, apakah fenomena istri yang mendominasi di dalam rumah tangga akan semakin merebak, seiring kesetaraan gender yang terus didengungkan? Lantas, bagaimana pria menyikapi hal ini, relakah mereka melakukan pekerjaan domestik, mengurus rumah?
Sesungguhnya pria tak keberatan memasuki ranah domestik, melakukan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, bahkan terbukti lihai menawar saat belanja di pasar, atau tak malu sekedar belanja keperluan rumah tangga di supermarket, bahkan menyuapi dan memandikan si kecil, ia juga bersedia melakukannya.
"Sangat bersalah rasanya jika saya membiarkan istri mengurus rumah tangga sementara, dia juga membantu saya mencari nafkah. Dan sebagai bentuk rasa terimakasih saya adalah dengan membantunya mengurus rumah," ujar Adit, 36 tahun.
Namun, ternyata beberapa wanita yang turut membantu suami bekerja di luar rumah, justru kerap didera perasaan bersalah karena membiarkan suaminya membantu mereka menyelesaikan pekerjaan domestik rumah tangga,
"Saya benar-benar merasa bersalah, melihatnya pulang bekerja dan lalu mencuci baju. Ia ingin membantu saya, karena tahu saya harus menjaga anak-anak. Saya terharu, dia bersedia mengabaikan sisi egoisnya, membantu melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya saya yang melakukannya ," ungkap Putri, 27 tahun.
Stabilkan Pernikahan
Tak perlu menyalahkan diri sendiri, karena sebenarnya pria menikmati perannya dalam membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut dikuatkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Cambridge.
Bahkan, membantu istri melakukan pekerjaan domestik rumah tangga selayaknya obat mujarab yang dapat mengikis pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi di dalam rumah tangga.
Bayangkan saat stres dengan tekanan pekerjaan di kantor, dan terbawa hingga ke rumah, Anda mendapati suami bersedia membantu membereskan pekerjaan rumah tangga, menjaga si kecil, misalnya. Suami tak menyudutkan Anda yang tak bisa mengurus rumah dan anak-anak, tetapi justru membantu membereskan kekacauan yang terjadi.
"Melihat suami yang tak lelah menjaga si kecil, sementara saya masih sibuk dengan urusan kantor, membuat saya semakin mencintainya. Tak ada yang lebih indah ketika kami bisa sama-sama saling menghargai dan bekerjasama dalam mengurus rumah tangga," ujar Putri.
Hal ini rupanya telah diteliti secara mendalam oleh London School of Economics (LSE) dengan judul penelitian, "Kerja Tanpa Bayaran Kaum Pria dan Perceraian." Penelitian yang melibatkan 3500 pasangan Inggris tersebut menyimpulkan, semakin banyak suami yang membantu tugas-tugas rumah tangga, seperti berbelanja ke pasar, dan mengurus anak dapat memperendah angka perceraian.
Sementara ahli ekonomi, Wendy Sigle-Rushton mengatakan, "Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kontribusi ayah pada pekerjaan tak berbayar di rumah bisa menstabilkan pernikahan, terlepas dari status pekerjaan ibu," ungkapnya.
Hm, lantas apa ya sebutan yang pas untuk pria yang mampu melakukan tugas ganda, sebagai suami, ayah, istri sekaligus ibu? Pantasnya ia dijuluki superman.
(maya/CN19)

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.